2 Mei 2016

Panduan Ujian Nasional Sub Rayon

A.   Latar Belakang

Demi kelancaran, ketertiban dan keamanan Pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional SMP di Sub Rayon 17 Rayon 27 Gondanglegi, Kabupaten Malang, perlu disusun   POS  Pelaksanaan Ujian Nasional.
Pada Tahun Pelajaran 2015/2016, Sub Rayon 17 Rayon 27 Gondanglegi yang terdiri atas 12 (dua belas) sekolah. Dua SMP Negeri, yakni a) SMPN 1 Gondanglegi; b) SMPN 2 Gondanglegi dan sepuluh SMP Swasta : c) SMP Al Fudloli, d) SMP Pesantren Raudlotul Ulum, e) SMP Modern Al Fifa’ie, f) SMP Global Islamic School, g) SMP Islam, h) SMP Al Rifa’ie, i) SMP Muhammadiyah 09, j) SMP Nahdlatul Ulama, k) SMP Raudlatul Ulum, dan l) SMP Hasanuddin.
Untuk penjaminan mutu, menjaga kesesuaian pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional sesuai tata peraturan yang berlaku, maka perlu dikoordinasikan agar pelaksanaan Ujian Sekolah dan Ujian Nasional tahun pelajaran 2015/2016 dapat berlangsung tertib, aman, dan lancar.
POS  Ujian Sekolah dan Ujian Nasional ini merupakan penjabaran dari Pedoman Teknis Penyelenggaraan Ujian Nasional dan Ujian Sekolah/Madarasah SMP/MTs dan SMA/MA Tahun Pelajaran 2015/2016 Nomor 423.7/514/103.04/2016 yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Timur dan berdasarkan atas Prosedur Operasional Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional BNSP Tahun Pelajaran 2015/2016 Nomor 0034/P/BSNP/XII/2015.




B.   Dasar

Penyusunan POS  Ujian Sekolah dan Ujian Nasional SR 17 R. 27 ini didasarkan pada :
1.    Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301);
2.    Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4496);
3.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;
4.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;
5.    Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 6 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah;



baca selengkapnya



5 April 2016

Dewaruci

JagadKejawen,
Suryo S. Negoro

Cerita wayang Dewa Ruci cukup populer dikalangan penggemar wayang di Indonesia.Adalah fakta gamblang, orang Jawa tradisional sangat menghargai dan tetap melestarikan wayang sebagai seni adiluhung warisan leluhur. Sampai kini, pagelaran wayang kulit tetap diminati oleh banyak penonton. Wayang sangat merasuk dihati, selain dinikmati sebagai tontonan klasik yang menarik, juga memberi tuntunan sikap dan pandangan hidup yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran.

Ini merupakan cerita wayang versi Jawa, dengan menggambarkan perjalanan spiritual
 Bima yang berliku-liku, penuh hambatan dan tantangan, sampai akhirnya, Bima berhasil ketemu dengan Dewa Suksma Ruci atau biasanya disebut Dewa Ruci.

Disinilah Bima mendapatkan pencerahan rohani, ketemu dengan Suksma Sejati yang sebenarnya berada didalam diri Bima sendiri, tak pernah berpisah. Pertemuan Bima dengan Dewa Suksma Ruci adalah perlambang dari
Manunggaling Kawulo Gusti, Manunggalnya Kawulo Gusti, hamba dengan Tuhan, dimana si anak manusia tentram bahagia dalam pengayoman cahaya keagungan Tuhan.

Mulai saat tersebut, Bima dengan pasti telah menggegam erat kehidupan sejati yang bagi kebanyakan orang masih saja merupakan teka-teki dan misteri. Laku spiritual Bima perlu dicermati, sebagai salah satu usaha batin yang efektif, untuk mendapatkan pencerahan.


Air Suci Prawitasari

Semua bermula ketika Bima disuruh oleh
 Guru Durna untuk menemukan Air Suci Prawitasari, supaya hidupnya benar-benar tentram bahagia.

Prawita dari pawita artinya bersih, suci; sari adalah inti. Jadi, Air Suci Prawitasari adalah inti dari Ngelmu Suci  The essence of divine spiritual knowledge.

Guru Durna menilai bahwa sudah saatnya Bima mendapatkan tataran ngelmu yang lebih tinggi. Menurut pengamatannya , Bima sampai saat ini telah berhasil menyelesaikan banyak tugas dalam bidang keduniawian, dia mampu karena pandai dan prigel dan dia punya budi luhur dan sikap mental yang baik.
 


Laku spiritual

Dalam usaha untuk menemukan
 Air Suci Prawitasari, dalam kisah wayang Dewa Ruci, Bima harus berjuang mati-matian seorang diri. Dibawah ini rintangan –rintangan yang harus disingkarkan :


Hutan Tikbrasara

Atas petunjuk gurunya, Bima menyeruak hutan lebat
 Tikbrasara yang seram dan banyak binatang buasnya. Bahaya yang dihadapi besar sekali, maut selalu menanti.

Sebenarnya
 Tikbrasa merupakan pralambang. Tikbra artinya prihatin; sara artinya tajam. Ini merupakan pelajaran untuk mencapai cipta yang tajam dan benar, dalam istilah spiritual umum adalah visualisasi yang tajam sehingga tujuan tercapai.


Gunung Reksamuka

Bima harus mendaki kepuncak gunung yang tinggi, melewati jalan terjal berkelok-kelok.. Dia berani menghadapi resiko apapun.

Ini juga pralambang, maksudnya harus mampu menjaga fokus pandangan mata. Pengalaman menjelajah hutan
Tikbrasara dan mendaki gunung Reksamuka adalah merupakan pelajaran sikap dalam melakukan meditasi atau samadi.

Siapkan diri baik-baik sebelumnya dengan membersihkan raga dan jiwa ( istilahnya :
sesuci). Bersikap santai, pasrah. Fokuskan pandangan mata kepuncak gunung, yaitu kepucuk hidung.Yang samadi, batinnya naik ketempat yang tinggi. Dalam istilah kebatinan Kejawen  dikatakan : bagai mendaki Tursina. Tur artinya gunung; sina adalah tempat yang tinggi.


Mengalahkan Rukmuka dan Rukmakala

Dihutan, Bima berhasil menaklukkan dua raksasa yang berwajah bengis menakutkan, yaitu
 Rukmuka danRukmakala.

Ini juga pralambang. Supaya meditasinya berhasil, kedua halangan besar itu harus disingkirkan.

Bagaimana bisa pasrah sumarah dalam samadi kalau pikiran ke
 Rukmuka artinya mau melahap makanan-makanan enak mewah yang sebenarnya ruk ( merusak) kesehatan tubuh dan pikiran.

Orang-orang tua suka memberi nasihat : Boleh makan secukupnya saja dan makanan yang sehat, diutamakan sayur dan buah. Kalau terlalu banyak makan lemak dan daging, selain tidak baik untuk kesehatan, juga tidak baik untuk spiritualitas.

Rukmakala adalah
 rukma( emas) yang kala ( membahayakan).Maksudnya , pikiran jangan maunya kekayaan materi yang melimpah melulu. Itu halangan untuk laku spiritualitas  dan samadi.

Itulah kenapa, Bima harus mengalahkan
 Rukmuka dan Rukmakala.


Samudra dan Ular

Ternyata
 Air Suci Prawitasari tidak ada dihutan dan digunung.Bima yakin apa yang dicari ada didalam samudra.

Samudra mengingatkan kepada kata “
samudra pangaksama” artinya punyailah hati yang lapang, jadilah orang yang pemaaf.

Bima meneruskan perjalanan dan tanpa ragu masuk ke samudra. Belum lama berada diair, Bima sudah mau diterkam seekor Ular Laut Raksasa. Bima bukan orang penakut, ular laut itu dihadapinya.

Ular disini melambangkan sifat-sifat jahat yang harus dilawan. Sesudah ular, yaitu sifat-sifat jahat berhasil disingkirkan, lalu sifat-sifat yang baik perlu dipertahankan dan dilakukan, antara lain :

·         Tidak iri kepada orang lain yang maju dan berhasil. Tidak susah yang berlebihan sewaktu kekayaannya berkurang ( bahasa Jawa : Rila).
·         Selau bersikap baik dan benar ( Legawa).
·         Menjalani kehidupan dengan rasa syukur dan dengan sadar. ( Nrima).
·         Rendah hati, sabar. Walau dijahati orang, tidak membalas, tidak dendam ( Anoraga).
·         Tahu dengan sadar yang salah dan yang benar. Ingat kepada yang sejati. ( Eling).
·         Tidak pernah bosan berbuat yang benar, antara lain untuk melakukan samadi.( Santosa).
·         Tentram hatinya, melupakan kesalahan masa lalu dan kerugian-kerugian yang pernah dialami diwaktu silam. (Gembira).
·         Selalu berniat dan berbuat baik untuk kepentingan semua pihak ( Rahayu).
·         Menjaga kesehatan badan, raga dirawat supaya tetap sehat, dipergunakan untuk berkiprah positif .Kalau sakit dihusada/diobati.( Wilujeng).
·         Selalu belajar dan mempelajari ilmu dan ngelmu yang benar ( Marsudi kawruh).
·         Melakukan samadi rutin, teratur dan disetiap saat terpanggil.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari supaya bersikap ngurang-ngurangi, misalnya makan pada waktu sudah lapar, makannya tidak perlu banyak, secukupnya saja. Minum pada waktu haus dan tidak usah memilih minuman yang enak-enak. Tidur pada waktu sudah mengantuk, tidak perlu dikasur yang empuk dan mewah, yang sederhana saja asalkan bersih dan sehat.Jangan suka ngomong dibelakang dan menjelek-jelekkan orang lain.Selalu bersikap positif dalam menjalani hidup ini. Bercinta dalam batas takaran dan sebaiknya dengan pasangannya yang sah.


Ketemu Dewa Suksma Ruci

Sesudah Bima berhasil menyingkirkan semua hambatan, mendadak tanpa persiapan apapun , dia ketemu dengan Dewa mungil yang bercahaya terang tetapi tidak menyilaukan ,rupanya mirip benar dengan dirinya, namanya Dewa Suksma Ruci.Bima diperintahkan masuk kedalam raga Dewa Suksma Ruci melalui telinga kiri dewa tersebut.

Meskipun ragu, bagaimana mungkin dia yang bertubuh besar bisa masuk ketelinga dewa kecil tersebut.  Bima patuh dan melakukan seperti yang diperintahkan. Dan apa yang terjadi? Bima sudah berada didalam dan disitu Bima bisa melihat seluruh jagat dan juga dewa mungil tersebut.

Pelajaran spiritual dari bertemunya Bima dengan Dewa Suksma Ruci adalah : Bima bersamadi dengan benar dan kesampaian samadinya. Kedatangan Dewa Suksma Ruci adalah pertanda suci, diterimanya samadi Bima, bersatunya
 Kawulo Gusti.

Didalam pandangan dalamnya , Bima bisa melihat segalanya, segalanya telah terbuka untuknya (
 Tinarbuko).

Bima telah menerima pelajaran terpenting dalam hidupnya. Dia telah menemukan sejati pribadinya yang berada didalam dirinya.” Aku Bima”, telah bertemu dengan “Bima Sejati” yang berupa cahaya.

Itulah
 Pamore Kawulo Gusti atau Manunggaling Kawulo Gusti.


 sumber : http://jagadkejawen.com/

20 Maret 2016

KISI-KISI BAHASA JAWA

1. memahami Teks cerita wayang “Lair Bungkus, Dpecah dening Gajah Sena”
2. menemukan tema, amanat, perwatakan dalam teks cerita wayang
3. menjelaskan Paribasan dalam kehidupan sehari-hari
4. Aksara Jawa :
    a. memahami tata tulis aksara Jawa dan Pasangan
    b. memahami penggunaan aksara Murda
    c. menemukan contoh penggunaan aksara Swara
    d. memahami penulisan Angka Jawa
    e. menemukan contoh penggunaan aksara Rekan  
5. memahami isi dan pesan Drama Tradisional/ Ludruk
6. Menjelaskan jenis-jenis kesenian tradisional
7. Memahami Wara-wara dan Jenis Ukara yang digunakan
8. memahami struktur dan tatakrama Pidato
9.  memahami Unggah-ungguh basa
10 menemukan contoh penggunaan basa krama alus
11. mengubah kalimat ragam ngoko ke krama alus
12. memahami struktur Naskah drama
13. memahami jenis, contoh dan tata paugeran Tembang Macapat

14. memahami struktur dan keindahan Geguritan

12 Maret 2016

CANGKRIMAN KANGGO NGASAH LANTIPE PIKIR





Kaaturake dening Arih Numboro*

1.    Pambuka
Bubar sholat 'Isyak ing masjid utawa ing langgar, bocah-bocah padha kumpul ing plataran lelungguhan dadi siji karo wong-wong tuwa sing luwih dhisik ana kono utawa gawe kalangan dhewe, banjur padha rembugan ngalor-ngidul, ana sing padha cangkriman, gobag sodor, jamuran, wilwa, lan sapanunggalane.
Kuwi mau gambarane bocah-bocah ing desaku nalika aku isih cilik. Saiki jamane wis beda. Bocah saiki wis arang-arang sing ngerti marang cangkriman, gobag sodor, benthik, jamuran, wilwa, betengan, lintang alihan, endhog-endhogan, cublak-cublak suweng, lan sapanunggalane. Nanging yen ditakoni ngenani Doraemon, Spongebob, Upin-Ipin, Shaun the Sheep, lan sapanunggalane, bakal kanthi lancar nyritakake ngenani film-film kuwi mau amarga dheweke pancen luwih seneng nonton televisi.
Ing kalodhanga iki, aku bakal ngandharake sethithik ngenani salah sawijining dolananku, yaiku cangkriman, kanthi pamrih supaya para maos bisa kelingan maneh marang pakulinan kang nyenengake iku, banjur nularake marang putra-putrane. Amarga cangkriman mono mujudake asil budidayane bangsa Jawa kang banget nengsemake.


Cangkriman utawa badhekan utawa uga ana kang ngarani bedhekan, iku mujudake unen-unen utawa tetembungan kang kudu dibatang, dibadhe kekarerape, amarga tetembungan mau nduweni teges kang ora sabenere. Lumrahe, cangkriman pancen nganggo tembung-tembung pitakon. Tuladhane mangkene: "Pak boletus apa?"; "Apa batangane sega sakepel dirubung tinggi?"; "Gajah midak endhog pecah apa ora?"; "Lawa telu kalong loro ana pira?"; "Lha, yen pitik walik saba kebon?"; "Pak bomba, pak lawa, pak piyut?" lan sapanunggalane.

2.    Warnaning Cangkriman
Ing perangan iki bakal diandharake warna-warnaning cangkriman kang kaperang dadi patang warna, yaiku kang wujud tembang, wancahan, pepindhan, lan blenderan.
  1. Cangkriman tembang
Cangkriman tembang iki wujude tembang macapat kang nyritakake sipat-sipating sawijining barang kang kudu dibatang. Lumrahe tembang sapada kanggo sacangkriman, senajan ana uga satembang kanggo pirang-pirang cangkriman.
Tuladha:
·         Pocung
Bapak pocung laire tinitah bisu / lamun rinaketan / pinarsudi den temeni / mung sarana pinandeng wruh basanira (batangane tulisan/layang).
·         Kinanthi
Wonten kadang kathahipun / kalih welas pekik-pekik / kang nenem karemanira / akekeceh siyang ratri / kang nenem ajrih ing toya / gurunira sang hyang rawi (batangane mangsa rolas, nenem mangsa rendheng, nenem mangsa katiga).
·         Mijil
Retnaning dyah lami ateteki / sajroning paturon / saking dahat amati ragane / katarima nulya salin warni / busana sarwadi / kawasa pinunjul (batangane enthung, teki = tapa, sarwadi = sarwa adi, sarwa endah).
Tembang macapat kabeh bisa kanggo sarana cangkriman, nanging kang lumrah dianggo cangkriman yaiku tembang pocung. Kang mratah dadi apalan dening para siswa ing sekolahan lan banjur kanggo cangkriman ana ngomah yaiku tembang Pocung kang unine mangkene:
bapak pocung cangkemu marep mandhuwur / sabamu ing sendhang / pencokanmu lambung kering / prapteng wisma si pocung mutah guwaya (batangane klenthing utawa jun)
  1. Cangkriman Wancahan
Cangkriman wancahan iku wujude wancahan utawa cekakan tembung-tembung saka ukara kang digunakake kanggo cangkriman. Dene carane nyekak tembung iku manut marang kang salumrahe dumadi ana ing cekakan basa Jawa, yaiku kanthi ngilangake wanda-wanda (basa Indonesia = suku kata) kang ngarep. Dadi kang digunakake rong wanda kang pungkasan utawa sawanda kang pungkasan, tuladha: bapak dadi pak, kebo dadi bo, tracake dadi cake, bapak cilik dadi pak lik, jeneng Suparyana manawa diundang cukup na bae, gedhe dhuwur dadi dhewur, idu abang dadi dubang,lan sapiturute.
Perlu sethithik kawuningan, manawa ing basa Jawa, cekakan utawa wancahan tembung kukume wis gumathok, yaiku kaya kang wis kasebut ing dhuwur mau. Dadi ora bakal kaprangguli wancahan kanthi ngilangake perangane tembung kang buri utawa sageleme anggone nyekak. Bab iki beda banget kalawan ing basa Indonesia kang tinemu ing koran-koran utawa ing televisi: anggone nyekak tembung sageleme dhewe. Tuladhane: 'sembilan bahan pokok' dicekak sembako, 'Dewan Perwakilan Rakyat' dicekak DPR,'Mentri Koordinasi Politik dan Keamanan' dicekak Menkopolkam. Ing acara televisi kaya ta: Intips cekakan saka informasi dan tipsJelita cekakan saka jendela informasi wanita, Pesta cekakan saka pentas sejuta aksi, Kiss cekakan saka kisah seputar selebriti, lan sapanunggalane kang cacah lan wujude maneka warna. Bab iki dakkira jumbuh kalawan unen-unen basa Jawa: seje endhas seje panggagas, seje udel seje ungel, lan (nuwun sewu) seje silit seje anggit!
Tuladha cangkriman wancahan:
Ø  Pak Kenthik = tepak teken sethithik.
Ø  Pak Bomba, Pak lawa, Pak Piyut = tepak kebo amba, tepak ula dawa, tepak sapi ciyut.
Ø  Mbulan kirna = tumbu neng dalan singkirna.
Ø  Wiwa wite lesmba dhonge = uwi dawa uwite tales amba godhonge.
Ø  Kaba ketan = nangka tiba neng suketan.
Ing perangane cangkriman wancahan iki manawa digatekake ana cangkriman kang wujude tembung prasasat dudu tembung saka basa Jawa nanging tembung saka basa manca, kaya ta:
Ø  Ling cik tu tu ling ling yu (basa Mandarin) = maling mancik watu, watune nggoling malinge mlayu.
Ø  Burnas kopen (basa Walanda) = bubur panas kokopen.
Ø  Lut maendhut yu mae rong (basa Inggris) = welut omahe ngendhut, yuyu omahe ngerong.
  1. Cangkriman Pepindhan (Irib-iriban Barang)
Cangkriman pepindhan wujude meh padha kalawan cangkriman tembang. Kekarone nyebutake kaanan utawa sipat-sipating sawijining barang, mung wae kang mbedakake yaiku cacahing ukara kang digunakake. Ing cangkriman tembang nggunakake ukara luwih saka siji kang diwujudake tembang, dene cangkriman pepindhan wujude ukara dudu tembang, lan lumrahe nggunakake saukara, pancen ana kang nggunakake ukara luwih saka siji.
Tuladhane cangkriman pepindhan:
Ø  Pitik walik saba kebon = nanas.
Ø  Wujude kaya kebo, ulese kaya kebo, lakune kaya kebo, nanging dudu kebo = gudel.
Ø  Bapak Demang klambi abang yen disuduk manthuk-manthuk = tuntut (kembang gedhang).
Ø  Anake gelungan, ibune ngrembyang = pakis.
Ø  Wit adhakah woh adhikih = ringin (adhakah = gedhe, adhikih = cilik).
Ø  Wit adhikih woh adhakah = semangka.
d.      Cangkriman Blenderan
Blenderan uga diarani plesedan. Dene cangkriman blenderan iku wujude ukara kang wus cetha tegese, nanging teges kang tinulis kuwi mau dudu teges kang sabenere (dikarepake). Cangkriman blenderan ana kang rinipta ing tembang ana kang ora. Wujude tembung kang digunakake yaiku tembung wancah lan homonim (tembung siji kang duwe teges beda-beda).
Tuladhane cangkriman blenderan:
Pangkur
Badhenen cangkriman ingwang / tulung-tulung ana gedhang awoh gori / ana pitik ndhase telu / gandhenana endhasnya / kyai dhalang yen mati sapa sing mikul / ana buta nunggang grobag / selawe sunguting gangsir
Batangane: gori = ditegori; telu = dibuntel wulu; gandhenana = gandhen ana; dhalang = kadhal lan walang; buta = tebu ditata; selawe (lawe) = bolah, benang.
Tuladha liyane:
Ø  Lawa telu kalong loro ana pira? (lawane telu karo kalonge (lawa gedhe) loro dadi ana lima).
Ø  Gajah midak endhog pecah apa ora? (batangane = ora. Mosok bareng midak endhog gajahe banjur pecah).
Ø  Endhog karo pitik dhisik endi? (batangane dhisik endhoge. Olehe nyebutake dhisik endhoge).
Ø  Ana kedadean aeng: pitik endhase telu, digandhenana endhase, dibubutana wulune, kathik bisa mabur (katrangane: digandhenana endhase karepe 'gandhen ana endhase', tegese dudu 'senajan digandheni endhase'; dibubutana wulune karepe 'bubut ana wulune' (bubut iku ewoning manuk), tegese dudu 'senajan dibubuti wulune'; kathik tegese manuk kathik (ewoning manuk, wujude kaya manuk drekuku nanging ulese ijo), dudu tembung panguwuh 'lha kok' utawa lha thik.
3.    Wangsalan
Wangsalan ing bab iki ora kaelokake marang ewoning cangkriman, senajan wujude meh padha kalawan cangkriman. Bedane, wangsalan iki mujudake ukara kangg ana tembung-tembung kang kudu dibatang. Wujude batangan mau ora kanthi cumeplos nanging sinandi ana ing wandane tembung-tembung ing gatra candhake ing ukara iku.
Tuladhane wangsalan:
·         Wilangan wolu lan loro, puluh-puluh wis kebanjur, kepriye maneh? (wolu lan loro = sepuluh).
·         Pring dhempet sunduk sate, besuk maneh yen arep kandha werna-werna, bok ketemu ijen bae, ta (pring dhempet = andha; sunduk sate = sujen).
·         Reca kayu, goleka kawruh rahayu (reca kayu = golek).
·         Sekar aren, Mas, sampun dangu anggen kula ngentosi rawuh panjenengan sekalihan (sekar aren = dangu).
·         Aja percaya marang kandhane Kang Paing, dheweke kuwi mbalung klapaethok-ethokan (balung klapa = bathok).
Ing pacelathon padinan, wangsalan kang tanpa nyebutake batangane (tebusane) uga kerep kaprungu. Olehe ora nyebutake batangane iku amarga wong kang diajak wawan gunem wis dianggep ngerti temenan marang tebusane wangsalan kang diucapake, jalaran wangsalan kang diucapake iku kerep kaprungu ing pacelathon padinan ing pasrawungan.
Tuladha:
·         We lha, njanur gunung temen, esuk-esuk kok wis tekan kene.
·         Jenang gula, lho, Dhi!
·         Dupeh kuwasa bae, nguneni wong kok nganak cecak.
·         Eman-eman temen, bagus-bagus kok njangan gori.
·         Aku wingi mentas lunga saka Kutha Bengawan.
Kejaba saka iku, wangsalan uga ana kang awujud tembang tuladhane kaya ing ngisor iki:
Dhandhanggula
Carang wreksa ingkang jamang tambir / nora gampang wong mengku nagara / baligo amba godhonge / kudu santoseng kalbu /tengareng prang andheging riris / den teteg trang den cipta / sendhang nir ing ranu sasat / ana palagan / kasang toya menyang seta munggeng ardi / yen apes kuwirangan.
Katrangan: carang wreksa = pang; jamang tambir = wengku; baligo amba godhonge = labu; tengareng prang = teteg; andheging riris = terang; nir ing ranu = asat; kasang toya = impes; menyan seta munggeng ardi = wlirang.
Pangkur
Wewangsalan roning kamal / pra anom den ngati-ati / wreksa kang pinetha janma golek kawruh kang sajati /kolik priya upami / anganggoa reh kang tuhu kalpika pasren karna / gegelang munggeng driji / aywa tinggalwiwah lali.
Katrangan: roning kamal = sinom; wreksa kang pietha janma = golek; kulik priya = tuhu; kalpika pasren karna = anting-anting; gegelang munggeng driji = ali-ali.
4.    Dudutan
Minangka pungkasaning atur, bakal dakaturake dudutan ngenani kang wus dakandharake ing ngarep:
a.         Cangkriman mujudake salah sawijing kabudayan (kasusastran) Jawa kang meh ilang, kesingkir dening rodha ajuning jaman.
b.         Bocah-bocah jaman saiki wis ora ana sing ngerti marang wujude cangkriman.
Kanthi dudutan cacah loro iku, nuwuhake pitakonan tumrap kita para sutresna kabudayan Jawa, yaiku: "Yagene bisa kelakon kaya mangkono?" Wangsulan ngenani pitakon iku kasumanggakake marang para sutresna kabeh. Sokur-sokur kersa paring tanggapan marang andharanku iki.
Matur nuwun.

sumber : mgmpbahasajawawonogiri.blogspot.co.id

7 September 2015

AKREDITASI- STANDAR ISI



INSTRUMEN  PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI PENDUKUNG  AKREDITASI  SMP/MTs


Nama Sekolah/Madrasah SMPN 1 GONDANGLEGI                                                         

Nomor Statistik Sekolah/Madrasah
(SSN/M)                                                       :                                                                                            

Nama Kepala Sekolah/Madrasah       :                                                                                  

Alamat Sekolah/Madrasah                   :  Jalan Raya Ketawang No 4  Gondanglegi

                                                                                          Kabupaten Malang – Jawa Timur                                                                        







I.  STANDAR  ISI


1.  Pelaksanaan kurikulum berdasarkan muatan KTSP  (Isi menurut apa yang terjadi di sekolah/madrasah saudara).


No.

Komponen muatan KTSP

1

Mata pelajaran:

1)       Pendidikan Agama                                      6)     Ilmu Pengetahuan Alam
2)       Pendidikan Kewarganegaraan                   7)     Ilmu Pengetahuan Sosial
3)       Bahasa Indonesia                                        8)     Seni Budaya
4)       Bahasa Inggris                                              9)     Penjorkes
5)       Matematika                                                  10)   TIK


2

Muatan lokal:

1)       Bahasa Daerah / Jawa
2)       Tata Busana
3)       Tata Boga
4)       Pendidikan Lingkungan Hidup

3

Kegiatan pengembangan diri:

1)       Bimbingan Konseling                                  9)     Seni Karawitan
2)       Pramuka                                                        10)   Seni Tari
3)       Sepakbola                                                      11)   TIK
4)       Basket                                                            12)   Jurnalistik
5)       Bola Voli                                                        13)   Teater
6)       Tae Kwon Do                                                14)   Iqro’
7)       Karate                                                             15)   Qiro’ah
8)       Seni Terbang Banjari




4

Pengaturan beban belajar*                                       36 Jam @ 40 menit (terlampir)

5

Ketuntasan belajar (KKM)**:

1)       P. Agm                                                            KKM = 75
2)       PKn                                                                 KKM = 75
3)       BIN                                                                 KKM = 75
4)       BIG                                                                 KKM = 75
5)       MAT                                                               KKM = 75
6)       IPA                                                                  KKM = 75
7)       IPS                                                                   KKM = 75
8)       Seni Budaya                                                  KKM = 75
9)       Penjorkes                                                       KKM = 75
10)   TIK                                                                  KKM = 75
11)   B. Daerah                                                       KKM = 75
12)   Tata Busana                                                 KKM = 75
13)   Tata Boga                                                      KKM = 75
14)   PLH                                                                 KKM = 75


6

Kriteria kenaikan kelas:

1)       Dilaksanakan setiap akhir pelajaran
2)       Kehadiran tatap muka pada setiap mata pelajaran minimal 90% , tanpa memperhitungkan sakit atau alas an tertentu sesuai peraturan yang berlaku.
3)       Mencapai KKM Sikap, Pengetahuan dan Keterampilan
4)       Tidak terlibat narkoba, perkelahian, tidak melawan pendidik/tenaga kependidikan secara fisik atau non fisik, tidak terlibat tindak kriminal
5)       Peserta didik tidak naik kelas apabila memiliki 3 mata pelajaran di bawah KKM dan berkepribadian yang tidak sesuai dengan ketentuan



Kriteria kelulusan:

1)       Menyelesaikan seluruh program pembelajaran
2)       Memperoleh nilai minimal baik untuk seluruh mata pelajaran
3)       Lulus Ujian Sekolah
4)       Kehadiran tatap muka di kelas IX pada setiap mata pelajaran adalah 90% dari tatap muka, tanpa memperhitungkan sakit dan alasan lain sesuai ketentuan


7

Pendidikan kecakapan hidup:
Terpadu dan integral pada semua mata pelajaran, muatan local dan pengembangan diri




5

Pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global dalam bentuk:

terpadu dan merupakan bagian integral dari pendidikan semua mata pelajaran, muatan lokal dan pengembangan diri.



Keterangan         *  Lampirkan kalender akademik dan jadwal pelajaran
**  Isi  dengan singkatan mata pelajaran dan KKM


2.  Ketersediaan dokumen pengembangan kurikulum (Isi jenis dokumen yang relevan dengan pengembangan kurikulum).



No.


Komponen
Ketersediaan*
Ada
Tidak
1
Berita acara rapat
-
2
Tanda tangan daftar Hadir

-

 Guru mata pelajaran
-

 Guru Bimbingan konseling/konselor
-

 Ketua komite sekolah/madrasah atau penyelenggara lembaga pendidikan
-
3
Buku pedoman pengembangan dan implementasi kurikulum (Permendiknas tentang KTSP)

4
Bahan workshop penyusunan KTSP

5
Bahan Workshop penyusunan silabus dan RPP


Keterangan : *Isilah tanda ceklis (√) pada kolom jawaban ada” atau tidak”.




3.     Daftar nama dokumen tertulis pengembangan kurikulum.

No.
Nama dokumen
1.        
Undang-undang No. 20 Th. 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
2.        
PP No. 19 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
3.        
Permendiknas No. 22 Th. 2006 tentang Standar Isi
4.        
Permendiknas No. 23 Th. 2006tentang Standar Kompetensi Lulusa
5.        
Permendiknas No 24 Th 2006 tentang Pelaksanaan Permendiknas No 22/2006
6.        
Permendiknas No. 6 Th. 2007 tentang Perubahan Permendiknas No.24/2006
7.        
Permendiknas No. 20 Th. 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan
8.     
Permendiknas No. 41 Th. 2007 tentang Standar Proses
9.        
Pengembangan Muatan Lokal Dir.Pembinaan Sek.Men. Dirjen Dikdasmen-2008
10.     
SK.Gubernur Jawa Timur No. 188/188/KPTS/013/2005 Kurikulum Bahasa Jawa
11.   
SK Gubernur Jatim No. 19 Th. 2014 tentang Muatan Lokal Wajib Bahasa Daerah
12.   
Permendikbud No. 54 Th. 2013 tentang SKL
13.   
Permendikbud No. 68 Th. 2013 tentang KD dan Struktur Kurikulum SMP
14.   
Permendikbud No 65 Th. 2013 tentang Standar Proses
15.   
Permendikbud No 66 Th.2013 tentang Standar Penilaian









4.    Dokumen mekanisme pengembangan KTSP sekolah/madrasah.



No.


Dokumen
Ketersediaan*
Ada
Tidak
1
Daftar hadir tim pengembang

2
Daftar hadir Narasumber

3
Draf KTSP

4
Dokumen final KTSP

5
Dokumen pemantapan dan penilaian KTSP


Keterangan : * Isilah tanda ceklis (√) pada kolom jawaban ada” atau tidak”.

5.   Prinsip pelaksanaan kurikulum yang diterapkan.


No

Prinsip pelaksanaan kurikulum
1
Siswa mendapat layanan bermutu, berkesempatan mengekspresikan diri secara bebas, dinamis, dan menyenangkan
2
Menegakkan 5 pilar belajar; beriman-bertakwa, memahami-menghayati, melakukan, hidup bersama, membangun – menemukan jati diri
3
Siswa mendapat perbaikan, pengayaan, dan percepatan
4
Suasana hubungan Guru dan siswa saling menerima dan menghargai, akrab, terbuka dan hangat
5
Pendekatan dengan multi strategi, multimedia, sumber belajar dan tehnologi memadai, menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar
6
Mendayagunakan kondisi alam, social dan budaya,serta kekayaan daerah
7
Diselenggarakan dalam keseimbangan, keterkaitan dan kesinambungan yang cocok dan memadai antar kelas, tingkat dan jenjang pendidikan

6.   Mata pelajaran muatan lokal:


1)       Bahasa Daerah
2)       Keterampilan Tata Busana
3)       Keterampilan Tata Boga
4)       Pendidikan Lingkungan Hidup

          Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan kurikulum muatan lokal dan kurikulum berbasis pendidikan karakter:


No

Pihak yang terlibat
1
Kepala Sekolah
2
Komite Sekolah
3
Ur. Kurikulum
4
Konselor
5
Guru Mata Pelajaran
6
Pengawas/Dinas Pendidikan
7
MGMP

            Dokumen penyusun kurikulum muatan lokal dan kurikulum berbasis pendidikan karakter.



No.


Dokumen
Ketersediaan*
Ada
Tidak
1
Daftar hadir tim pengembang

2
Dokumen kurikulum/silabus mata pelajaran muatan lokal

3
Dokumen kurikulum/silabus mata pelajaran berbasis pendidikan karakter

Keterangan : * Isilah tanda ceklis (√) pada kolom jawaban ada” atau tidak”.


7.        Jenis-jenis program pengembangan diri dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler yang dimiliki sekolah/madrasah.

No.

Jenis kegiatan ekstrakurikuler

No.

Jenis kegiatan ekstrakurikuler
1
Bimbingan Konseling
9
Seni Karawitan
2
Pramuka
10
Seni Tari
3
Sepak Bola
11
Seni Terbang Banjari
4
Bola Voli
12
Iqro’
5
Bola Basket
13
Qiro’ah
6
Tae Kwon Do
14
Jurnalistik
7
Karate
15
Seni Teater
8
Bahasa Inggris




 8.       Jenis-jenis program pengembangan diri  dalam bentuk kegiatan konseling yang dimiliki sekolah/madrasah.


No.

Jenis kegiatan konseling
Ketersediaan*
Ada
Tidak
1
Konseling belajar

2
Konseling pribadi

3
Konseling social

4
Konseling karir

5



Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban “Ada”  atau Tidak”


9.  Kesesuaian antara SK,  KD, dan indikator-indikatornya.




No.


Mata Pelajaran
Kesesuaian dengan SK,  KD, dan indikator-indikatornya*
Sesuai
Tidak
1
Pendidikan Agama

2
Pendidikan Kewarganegaraan

3
Bahasa Indonesia

4
Matematika

5
I P A

6
I P S

7
Bahasa Inggris

8
Seni Budaya

9
Penjorkes

10
TIK

11
Bahasa Daerah

12
Tata Busana

13
Tata Boga

14
Pendidikan Lingkungan Hidup


Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban Sesuai atau Tidak”


10 Beban belajar yang ditetapkan oleh sekolah/madrasah.

No.
Pembelajaran
Jumlah
1
Satu jam tatap muka
40  menit
2
Jumlah pembelajaran per minggu
36  jam
3
Jumlah minggu efektif per tahun
34  minggu


11. Data guru mata pelajaran yang memberikan tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur





No.



Guru Mata Pelajaran
Tugas terstruktur dan kegiatan mandiri tidak terstruktur*
Ada
Tidak Ada
1
Pendidikan Agama

2
Pendidikan Kewarganegaraan

3
Bahasa Indonesia

4
Matematika

5
I P A

6
I P S

7
Bahasa Inggris

8
Seni Budaya

9
Penjorkes

10
TIK

11
Bahasa Daerah

12
Tata Busana

13
Tata Boga

14
Pendidikan Lingkungan Hidup




Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban Ada”  atau “Tidak Ada”


12 Silabus mata pelajaran yang telah disahkan oleh Dinas Pendidikan/Kankemenag
Kabupaten/Kota.

No

Mata Pelajaran
Kelas*
VII
VIII
IX
1
Pendidikan Agama
2
Pendidikan Kewarganegaraan
3
Bahasa Indonesia
4
Matematika
5
I P A
6
I P S
7
Bahasa Inggris
8
Seni Budaya
9
Penjorkes
10
TIK
11
Bahasa Daerah
12
Tata Busana
13
Tata Boga
14
Pendidikan Lingkungan Hidup
Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban




13.  Langkah-langkah pengembangan silabus yang dilaksanakan.


No.

Tujuh langkah pengembangan  silabus
1
Pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
2
Mengidentifikasi Materi Pokok Pembelajaran
3
Mengembangkan Kegiatan Pembelajaran
4
Merumuskan indikator pencapaian belajar
5
Menentukan jenis penilaian
6
Menentukan  alokasi waktu
7
Menentukan  sumber belajar


14.  Mata pelajaran yang memiliki silabus yang disusun  oleh guru mata pelajaran.


No

Mata Pelajaran
Kelas*
VII
VIII
IX
1
Pendidikan Agama
2
Pendidikan Kewarganegaraan
3
Bahasa Indonesia
4
Matematika
5
I P A
6
I P S
7
Bahasa Inggris
8
Seni Budaya
9
Penjorkes
10
TIK
11
Bahasa Daerah
12
Tata Busana

13
Tata Boga


14
Pendidikan Lingkungan Hidup
Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban
15.  Proses pengembangan silabus.




No.



Mata pelajaran

Ketersediaan berita acara*
Ketersediaan dokumen silabus*
Ada
Tidak
Ada
Tidak
1
Pendidikan Agama


2
Pendidikan Kewarganegaraan


3
Bahasa Indonesia


4
Matematika


5
I P A


6
I P S


7
Bahasa Inggris


8
Seni Budaya


9
Penjorkes


10
TIK


11
Bahasa Daerah


12
Tata Busana


13
Tata Boga


14
Pendidikan Lingkungan Hidup




Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban Ada”  atau “Tidak”




16 Mata pelajaran yang memiliki Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75,00 persen atau lebih.

No

Mata Pelajaran
KKM Kelas*
VII
VIII
IX
1
Pendidikan Agama
2
Pendidikan Kewarganegaraan
3
Bahasa Indonesia
4
Matematika
5
I P A
6
I P S
7
Bahasa Inggris
8
Seni Budaya
9
Penjorkes
10
TIK
11
Bahasa Daerah
12
Tata Busana

13
Tata Boga


14
Pendidikan Lingkungan Hidup







Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban

17.  Unsur yang diperhatikan dalam penentuan KKM setiap mata pelajaran


No.
Unsur penentu KKM
Diperhatikan
Tidak diperhatikan
1
Karakteristik siswa

2
Karakteristik mata pelajaran

3
Kondisi sekolah/madrasah

Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban “Diperhatikan” dan
“Tidak diperhatikan”


18.  Dokumen kalender akademik sekolah/madrasah.



No.

Komponen kalender akademik
Ketersediaan (*)
Ada
Tidak ada
1
Jadwal awal tahun pelajaran

2
Minggu efektif belajar

3
Waktu pembelajaran  efektif

4
Hari  libur



Keterangan: * Isilah tanda ceklis () pada kolom jawaban “Ketersediaan